Khotbah Minggu 11 Juni 2023
Tema Bulanan : Tindakan Demokrasi : Persembahkan Hidup Yang Benar, Adil dan Menjadi Berkat
Tema Mingguan: Usahakanlah Keadilan Maka Engkau Hidup!
Usahakanlah keadilan maka Engkau Hidup, demikianlah tema mingguan kita. Tema Mingguan ini mau menegaskan tentang keadilan sebagai salah satu nilai yang mengarahkan manusia kepada hidup. Dan keadilan yang dibicarakan dalam teks kajian Yehezkiel 18:1-32 ini adalah keadilan Allah; bukan keadilan yang dirumuskan manusia. Memang perikop ini oleh LAI diberikan judul setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya. Tetapi dalam memaknai perikop ini, kita akan memahami bagaimana keadilan Allah dan tanggungjawab pribadi setiap orang dalam mengambangkan kehidupan bersama.
Nah jemaat, kita pasti pernah mendengar peribahasa yang biasa dipakai dalam masyarakat kita yaitu: "Orang tua makan mangga muda, anak-anak punya gigi ngilu." Peribahasa ini juga dipakai oleh orang Israel ketika mereka dibuang ke Babel. Mereka sering memaknai bahwa anak-anak menderita karena kesalahan orang tuanya; generasi Israel yang mengalami pembuangan, itu adalah karena dosa-dosa orang tua mereka, generasi sebelum mereka. peribahasa ini telah membuat umat di pembuangan menjadi pasrah dan menyerah. Peribahasa ini adalah peribahasa yang populer di zaman Yehezkie.; Namun, nabi Yehezkiel dengan tegas menolak peribahasa itu. Menurut Yehezkiel, memang betul terbuangnya mereka ke Babel karena kebijakan politik para pemimpin pada waktu itu yang mengabaikan nasihat para nabi antara lain Yesaya. Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka yang terbuang ke Babel tidak perlu menata hidup mereka sendiri. Sebab Allah selalu ada, dan Allah sesungguhnya bukanlah Allah yang mengabaikan keadilan. Ia selalu bertindak dengan keadilan-Nya untuk memberikan kehidupan bagi umat di setiap situasi kehidupan. Hanya saja seringkali umat merasa seolah-olah Allah meninggalkan mereka dan bahwa kesalahan di masa lampau turut menentukan kehidupan di masa kini. Karena itu melalui nabi Yehezkiel, pemahaman dan iman umat mau dibarui dan dikuatkan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Ada beberapa hal dari teks ini yang dapat kita pahami dan maknai. Pertama, dikatakan dalam bagian ini bahwa Allah kita adalah Allah yang adil. Itu adalah salah satu sifat Allah yang menghendaki keadilan selalu ditegakkan. Allah memang menghukum orang yang melakukan kesalahan. Allah tidak akan mentolerir kesalahan atau perbuatan dosa. Karena itu, Allah menghendaki umat-Nya untuk tetap setia dan taat kepada-Nya. Tetapi Allah tidak pernah bermaksud untuk membinasakan manusia dengan hukumanNya. Ia menghukum dengan maksud supaya orang yang bersalah itu segera bertobat dan kembali kepada-Nya. Seperti dikatakan dalam pembacaan kita tadi, “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (ayat 23). Jadi Allah sama sekali tidak menghendaki orang berdosa binasa dalam keberdosaannya dan karena itu masih memberikan kesempatan untuk siapapun yang melakukan kesalahan dapat bertobat lalu berbalik kepada-Nya. Yang kedua, dari teks ini kita melihat bahwa umat Israel di pembuangan merasa karena dosa-dosa yang dilakukan oleh orangtua mereka di masa lampau yang menjadi penyebab mereka mengalami semua penderitaan. Hal itu membuat mereka merasa lemah dan terpuruk. Kehilangan pegangan dan harapan akan pemulihan. Dalam kenyataannya di masa kini, masih ada jemaat yang sering berpikir tentang dosa turunan. Misalnya, kalau ada jemaat mengalami suatu kemalangan, biasanya ada yang suka mencari akar masalah, dalam arti mencari tahu ini dosa siapa yang menyebabkan kemalangan yang dialami.
Dasar yang dipakai adalah ayat-ayat alkitab. Salah satunya dari Keluaran 20:5. Di mana dikatakan bahwa Allah adalah Allah pencemburu yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya sampai keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Warga jemaat kadang lupa bahwa ayat ini masih ada sambungannya yaitu, Tetapi, Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu keturunan, kepada mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku. Jadi ayat ini tidak menekankan soal dosa turunan, melainkan tawaran pengampunan bagi mereka yang bertobat dan dengan setia berjalan pada jalan Tuhan. Keadilan Allah bukan saja keadilan retributif, di mana orang yang bersalah dikenakan sanksi atau hukuman sesuai kesalahannya, melainkan juga keadilan kreatif yang membuka peluang untuk seseorang mengalami hidup baru. Keadilan Allah ini penting untuk mengingatkan semua orang yang melakukan kesalahan bahwa selalu ada kesempatan yang diberikan Allah untuk seseorang mengalami pertobatan dan pembaruan hidup. Karena itu tidak ada alasan untuk tinggal bertahan dalam dosa dan kesalahan dan merasa bahwa tidak ada lagi pengampunan.
Jemaat yang diberkati Tuhan, hal ketiga yang dijelaskan dari teks ini dan yang tidak boleh kita lupakan yakni bahwa keadilan dan kasih Allah itu selalu berjalan seiring. Keadilan Allah menghendaki ketaatan dan kesetiaan kita, Dan kalau karena kelemahan manusiawi kita berjalan salah dan berlaku tidak setia, maka Allah akan menghukum kita. Jadi jangan berpikir bahwa tidak akan hukuman bagi kita yang selalu melakukan kesalahan, melakukan kejahatan dan sebagainaya. Bertindak seolah-olah Tuhan tidak tahu dan tidak melihat, sehingga tidak sadar secepatnya. Kesalahan atau dosa dan kejahatan apapun yang dilakukan, masing-masing orang bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukannya. Tetapi di sisi lain, jangan pernah dilupakan pula bahwa kasih Allah yang mengampuni akan membuka kesempatan pemulihan bila seseorang mau sungguh-sungguh bertobat.
Jemaat yang diberkati Tuhan, untuk menjalankan kehidupan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan maka tanggung jawab pribadi menjadi sangat penting. Inilah yang ditegaskan dari perikop ini. masing-masing orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Sebab itu, relasi personal dengan Tuhan sangat diperlukan supaya tahu apa yang dilakukan ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. Kalau seseorang melakukan kebenaran dan keadilan, tidak berlaku jahat, tidak menindas orang lain, merampas milik orang, tidak makan riba atau memungut bunga uang dan selalu hidup menurut ketetapan firman Tuhan, maka pastilah dia akan hidup. (ayat 5-9). Tetapi kalau seseorang mengalami kemalangan jangan cari “kambing hitam” atau orang yang dapat dipersalahkan. Diri sendiri yang harus periksa diri dan bertobat bila melakukan kesalahan. Itu sikap orang Kristen yang bertanggung jawab, untuk bertobat dan berubah supaya dapat mengalami cinta kasih Allah secara penuh.
Jemaat yang diberkati Tuhan, firman Tuhan ini disampaikan kepada kita di saat ini untuk menolong kita menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan dengan sebaik-baiknya. Panggilan untuk mengupayakan hidup supaya berlangsung dengan penuh kualitas itu yang harus diwujudkan. Salah satunya adalah mengupayakan keadilan. Keadilan yang bersumber dari keadilan Allah. Keadilan Allah berbasis pada kehidupan, bukan kematian. Karena itu, Allah tidak menghendaki kematian orang fasik; tetapi menghendaki orang fasik bertobat untuk memperoleh hidup. Karena itu, pilihan-pilihan hidup ditawarkan oleh Allah kepada seluruh manusia, melalui pertobatan atau pembaruan diri. Tidak pernah ada kata terlambat bagi siapapun yang mau berubah. Jangan tunggu hukuman Allah berlangsung. Firman Tuhan inipun mengingatkan kita bahwa keadilan yang dibangun dalam kehidupan kita manusia, bukan hanya keadilan kepada orang-orang di sekitar. Dengan berlaku adil kepada yang lemah dan miskin, tetapi, keadilan juga perlu dilakukan kepada diri sendiri. Salah satu wujud keadilan kepada diri sendiri adalah menemukan dan mengakui kesalahan dan kelemahan diri, lalu membangun tekad untuk memperbaiki kelemahan dan kesalahan itu, sehingga terjadi pembaruan hidup yang akan mengarahkan kita kepada hidup. Keadilan kepada diri sendiri bermakna penerimaan diri, termasuk menerima diri yang lemah dan terbatas, sehingga ruang pertobatan atau pembaruan diri terbuka untuk dijalani. Masing-masing kita lebih tahu dan kenal kelemahan dan keterbatasan diri. Pada diri kita masing-masing ada satu dua titik kelemahan yang menjadi akar kejatuhan kita. Karena itu, mengenal diri dan tahu kesalahan diri akan mengarahkan kita kepada pertobatan hidup, daripada melemparkan kesalahan kepada orang lain. Atau menuduh orang lain menjadi penyebab kemalangan dan kejatuhan yang kita alami.
Orang yang selalu melempar kesalahan kepada orang lain itu pengecut. Kita harus menjauhkan diri dari sikap ini. Karena sadar kita harus bertanggungjawab atas diri kita masing-masing. Jemaat yang dikasihi Tuhan, Pertobatan bukanlah masalah menanggung kesalahan sebagai beban, juga tidaklah sekedar menumbuhkan penyesalan dalam diri. Sebaliknya, mengaku salah adalah langkah pertama menuju perubahan hidup atau transformasi. Inilah yang disebutkan dalam perikop kita ini dengan pernyataan “mendapatkan hati yang baru dan semangat yang baru”. Pertobatan adalah langkah yang aktif dan disengaja ke arah yang baru. Ini adalah langkah ke masa depan, ke dalam kehidupan itu sendiri. Jadi mari, jangan membiarkan waktu hidup ini terus berlalu tanpa ada hal baik yang dapat kita hasilkan. Termasuk menjadi diri yang baik dan menghasilkan kerja serta pelayanan yang baik.
Kiranya Roh Kudus menolong kita semua untuk memaknai firman Tuhan ini dan mengupayakan keadilan sebagaimana dikehendaki Tuhan dalam hidup supaya kita tetap hidup. Amin.


